Mendaki Bersama PT. Go Jek Indonesia – MT. Bawakaraeng 2830 Mdpl

Posted on | 2 Comments

Gunung Bawakaraeng berada di wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di lereng gunung ini terdapat wilayah ketinggian, Malino, tempat wisata terkenal di Sulawesi Selatan. Secara ekologis gunung ini memiliki posisi penting karena menjadi sumber penyimpan air untuk Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinjai.

Bawakaraeng bagi masyarakat sekitar memiliki arti sendiri. Bawa artinya Mulut, Karaeng artinya Tuhan. Jadi Gunung Bawakaraeng diartikan sebagai Gunung Mulut Tuhan.Penganut sinkretisme di wilayah sekitar gunung ini meyakini Gunung Bawakaraeng sebagai tempat pertemuan para wali. Para penganut keyakinan ini juga menjalankan ibadah haji di puncak Gunung Bawakaraeng setiap musim haji atau bulan Zulhijjah, bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Tepat tanggal 10 Zulhijjah, mereka melakukan salat Idul Adha di puncak Gunung Bawakaraeng atau di puncak Gunung Lompobattang.

Kali ini kami dari K2 Adventure Service Team – Mountain and Jungle Explorers mendaki bersama PT. Go Jek Indonesia di Gunung Bawakaraeng yang memiliki ketinggian 2,830 Mdpl, berikut ulasan perjalanan kami;

DAY I

Pagi hari kami berkumpul di titik point di Kantor PT. Go Jek Indonesia yang berada di Jl. Alauddin Makassar, persiapan dan doa bersama sebelum melakukan perjalanan ke Desa Lembanna – Malino.

Perjalanan menuju Desa Lembanna – Malino yang berjarak sekitar 80km membutuhkan waktu 2 jam dengan menggunakan kendaraan (Fortunernya Om Arfah) hehe. Setiba di Desa Lembanna – Malino kami istirahat sejenak di rumah “Tata” (Sebutan warga lokal yang dituakan). Jalur pendakian dari Lembanna menuju puncak kami akan melewati 10 Pos.

Pos 0 – Pos 1

Jam 15:00 Wita kurang, kami mulai berjalan  kaki menuju POS 1 yang berjarak  sekitar 2,2km. 1 jam setelah melakukan langkah pertama dari desa Lembanna dengan susah payah, akhirnya tiba di Pos 1. Menuju Pos 1 terdapat 2 jalur pemisah, yaitu menuju puncak Gunung Bawakaraeng (Kiri) dan menuju Lembah Ramma (Kanan). Di Pos ini tidak terdapat sumber air.

Pos 1 – Pos 2

”Standar samping” (Sebutan istirahat sejenak),  kami mulai melanjutkan langkah menuju Pos 2 yang berjarak sekitar 990 m. Kondisi hampir sama pada perjalanan menuju Pos 1, di Pos 2 juga jalur sangat landai dan waktu tempuh untuk mencapai Pos ini sekitar 45 menit. Umumnya pendaki beristirahat di sini sekedar relaksasi dan mengambil air karena terdapat anak sungai di Pos ini. kami sedikit terhibur dengan tulisan di trangulasi Pos 2. “Berapa banyak harga yang dimiliki kalau sifat tamak dan tidak bersyukur, memiliki seluruh isi bumi pun tidak akan bahagia“.

Pos 2 – Pos 3

Sepertinya rute ke Pos 3 adalah rute yang paling pendek, yang berjarak sekitar 308 m. Waktu tempuh dari pos 2 hanya 15 menitan saja. Masih terdapat aliran air dengan intensitas kecil. Lumayanlah buat cuci muka. Lagi-lagi dibuat sedikit sadar dengan tulisan yang ada di triangulasi pos ini. “Jangan terlalu bergantung pada orang lain karena bayangmu dapat meninggalkanmu saat kamu ada di kegelapan“.

Pos 3 – Pos 4

Setelah beristirahat sejenak kami mulai melanjutkan langkah menuju Pos 4. Jalur ini berjarak sekitar 900 m dan waktu tempuh sekitar 45 menit. Masih landai dan haripun sudah mulai gelap. Sudah mulai memasuki hutan lumut. Karena ketinggian sudah mencapai lebih dari 1800 meter, maka hanya tanaman tertentu saja yang dapat tumbuh subur di kawasan ini seperti lumut dan jamur yang saya temui.  Sampai di trangulasi pos 4, betis sudah mulai nyut-nyut, detak jantung berdetak kencang, dan aliran nafas dari mulut mulai tergesa-gesa. Istirahat yang cukup lama mungkin solusi terbaik saat itu. Dan waktu magribpun telah tiba. Di pos ini tidak terdapat sumber air.

Pos 4 – Pos 5

Setelah nafas mulai teratur kembali, jam 18.30 kami mulai berjalan kembali menuju pos 5 yang berjarak sekitar 1,1 km. Medan masih dikuasai tanaman lumut. jalur yang semakin menanjak memaksa kami untuk singgah beberapa kali untuk mengatur nafas. Setelah 50 menit berlalu, akhirnya sampai juga di Pos 5. Di Pos ini cukup luas dan sangat terbuka dan dingin pun sudah mulai menusuk. Kamipun turun di dekat sumber air dan memutuskan untuk memasang tenda dan bermalam di Pos ini

DAY II

Pos 5 – Pos 6.

Setelah sarapan dan jam sudah menujunjukkan pukul 11.00 kami pun mulai melanjutkan perjalanan menuju pos 6 yang berjarak sekitar 1 km. Jalur ini mulai terbuka dan menanjak melewati punggungan bebatuan dan pemandangan yang indah membuat kami selalu singgah istirahat sambil mengeluarkan kamera untuk mengambil gambar, sungguh pemandangan yang menakjubkan. 1 jam 30 menit berlalu kami pun tiba di Pos 6. Karena panasnya matahari dan dinginnya cuaca kamipun memutuskan ngopi di Pos ini. (Tidak ada sumber air).

Pos 6 – Pos 7

Setelah beberapa batang rokok habis, kami pun melanjutkan langkah menuju Pos 7 yang berjarak sekitar 700m. Karena jalur menanjak dan dikelilingi dengan hutan lumut yang sangat indah, maka kamipun membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke Pos 7. Berdiri melihat sekeliling di Pos ini, kita sudah bisa merasakan bagian dari puncak Gunung Bawakaraeng. Di sana terlihat bagian Lembah Ramma yang dikelilingi dengan pegunungan hijau. Kamera pun tak terlupakan untuk mengabadikan momen tersebut.

Pos 7 – Pos 8

Jam menunjukkan pukul 15:00 kamipun mulai melangkah menuju Pos 8 yang berjarak sekitar 1,6 Km. Inilah trek yang paling “PHP” dan paling berat menurut saya. Bagaimana tidak, jalur yang dilewati harus naik-turun-naik-turun-naik-turun gunung. Sempat berpikir kenapa jalurnya gak diratakan saja, kenapa harus turun dan naik lagi. Tapi mungkin disitulah “nikmatnya” pendakian. 2 Jam berlalu kami tiba di pos 8, kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan beristirahat. Terdapat sebuah sungai yang cukup deras yang berdinding lumut, yang biasa di sebut dengan “Telaga Bidadari”. Malam pun tiba, kami semua sepakat untuk mempersiapkan makan malam dan beristirahat.

DAY III

Pos 8 – Pos 9

Pagi hari yang berselimut kabut, kami pun bangun dan bersiap untuk menuju Pos 9. Sebelumnya kami cukup menyimpan sebagian barang-barang di tenda pos 8 agar tidak terlalu terbebani lagi ke puncak. Jarak menuju ke pos 9 sekitar 400 meter dan sangat menanjak dan dipenuhi dengan hutan lumut. Walau begitu, kami mulai disuguhkan dengan pemandangan terbuka kawasan puncak bawakaraeng.

Di Pos 9 terdapat jalur untuk menuju ke pos 1 kawasan Tassosso (Sinjai Barat) dan juga terdapat sumber mata air. Banyak juga pendaki yang memutuskan untuk menginap di pos ini.

Pos 9 – Pos 10

 Masih dengan pemandangan terbuka kami harus melangkahkan kaki ke puncak selama 45-an menit. Jarak menuju Pos 10 sekitar 650 m. Saya pribadi sudah mulai kehabisan nafas, mungkin karena pengaruh ketinggian di atas 2600 meter yang menyebabkan oksigen semakin menipis dan trek yang sangat terjal membuat kita tetap harus behati-hati. Jam 10:30 kami pun tiba di Pos 10 dan bertemu dengan pendaki lain dari Sinjai.

Puncak (2830 m

Alhamdulillah, sampai juga di Top of Gowa 2830 Mdpl. Sangat Indah pemandangan dari atas. Disini kita bisa melihat awan yang seolah-olah menyerbu bukit. Seperti di syurga, ingin berlama-lama di sini.

Satu hal terpenting yang saya dapat di pendakian kali ini, Hidup itu sama halnya mendaki gunung. Jika lelah, beristirahatlah. Jika terjatuh bangkitlah kembali dan terus melangkah mencapai puncak. Karena ketahuilah, bahwa keindahan tak terdapat di bawah, namun pada puncaknya.

6 thoughts on “Mendaki Bersama PT. Go Jek Indonesia – MT. Bawakaraeng 2830 Mdpl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *